karakteristik tersebut menunjukkan tantangan penerapan pancasila di era
Sebagaiideologi negara, Pancasila harus menjadi acuan negara dalam menghadapi berbagai tantangan global dunia yang terus berkembang. Di era globalisasi ini peran Pancasila tentulah sangat penting untuk tetap menjaga eksistensi kepribadian bangsa Indonesia, karena dengan adanya globalisasi batasan batasan diantara negara seakan tak terlihat, sehingga berbagai kebudayaan asing dapat masuk dengan mudah ke masyarakat.
Tantanganlain dalam penerapan Pancasila di era reformasi adalah menurunnya rasa persatuan dan kesatuan diantara sesama warga bangsa saat ini adalah yang ditandai dengan: Adanya konflik di beberapa daerah, tawuran antar pelajar, tindak kekerasan yang dijadikan sebagai alat untuk menyelesaikan permasalahan dan sebagainya.
Akibatdari tidak seimbangnya antara perilaku milenial dengan penerapan Pancasila adalah ciri khas bangsa kita, seperti gotong royong yang mulai memudar seiring berjalannya waktu. Hal ini menjadikan generasi milenial menjadi manusia yang individualis, serta kurangnya rasa Nasionalisme dan Patriotisme.
Diera milenial ini, penting sekali menyegarkan gagasan Pancasila agar sesuai dengan konteks zaman. Untuk membangun benteng ideologi yang kokoh, generasi muda perlu disasar dan dilibatkan secara massif dalam mengkampanyekan nilai-nilai Pancasila. Terlebih, mereka cenderung mudah terpapar dengan virus ekstrimisme dan radikalisme.
Perhatikankarakteristik periode penerapan Pancasila berikut! (1) Kebebasan politik dan kebebasan pers dibatasi (2) Pembatasan terhadap jumlah partai politik (3) Terjadi kasus pembredelan terhadap media (4) Terjadi krisis media di Indonesia Karakteristik tersebut menunjukkan tantangan penerapan Pancasila di era A.
I Love You Site De Rencontre. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Sebagaimana kita ketahui, Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang merupakan kumpulan nilai dasar yang dipegang oleh negara serta masyarakat Indonesia sebagai pandangan hidup bangsa. Pancasila lahir karena perjuangan para pahlawan kita sebagai bentuk kesepakatan bersama untuk mempersatukan seluruh rakyat Indonesia yang memiliki banyak revolusi industri adalah era di mana teknologi digunakan sebagai kebutuhan pokok masyarakat. Sebagai contoh, ketika lapar dan hendak membeli makan, cukup membuka aplikasi untuk memesan makanan dan membayarnya dengan e-money atau uang tunai. Contoh lainnya adalah saat ingin membeli barang, hal serupa dapat dilakukan dengan hanya membuka aplikasi, memilih barang yang ingin dibeli dan bertransaksi sesuai ketentuan. Komunikasi pun dapat dilakukan dengan semua orang yang ada di dunia ini, baik yang dikenal, maupun yang tidak. Perjuangan Pancasila sebagai ideologi terasa semakin berat saat memasuki era milenial dan revolusi industri karena zaman sekarang, teknologi hampir menguasai seluruh dunia. Perkembangan teknologi yang semakin hari semakin pesat, membuat informasi dapat menyebar dengan mudah. Hal ini jika dalam sudut pandang positif adalah hal yang baik karena dengan informasi yang mudah kita dapatkan, kita menjadi lebih cepat mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita. Tetapi, itu berlaku saat kita selektif terhadap suatu informasi dan bijak ketika menerimanya. Informasi yang tersebarluaskan, belum tentu merupakan sebuah fakta lapangan yang terjadi. Terkadang, ada oknum tidak bertanggung jawab yang membuat informasi palsu untuk mengadu domba masyarakat sehingga terjadilah perpecahan. Informasi palsu ini selain dapat menyebabkan perpecahan, dapat membuat seseorang melakukan tindakan asusila, menyakiti orang lain, memicu kepanikan, dan bahkan paling parah dapat membuat suatu Negara terancam jika tidak memiliki ideologi yang tantangan untuk menerapkan Pancasila lebih dirasakan oleh generasi milenial. Mereka lahir ke dunia ketika dunia telah berpusat pada teknologi yang secara tidak sadar membuat mereka tidak mengetahui apa yang terjadi kepada dunia sebelum teknologi berkembang pesat. Mereka menganggap, zaman sekarang memang hal lumrah untuk sering bermain gawai. Kepala mereka sering menunduk untu bermain gawai, mengabaikan sekitar mereka, serta lebih senang untuk mengobrol lewat media komunikasi daripada secara langsung. Apakah itu hal yang patut kita prihatinkan? Iya. Sila-sila yang terkandung pada Pancasila lebih cenderung mengajarkan kita untuk bersosialisasi, mempererat tali silaturahmi, dan menjalin persaudaraan dengan komunikasi yang terjadi secara tatap muka karena selain dapat meningkatkan skill sosialisasi, hal ini dapat membuat kita lebih mengenal karakter orang dari gurat wajah dan lainnya adalah saat pembelajaran tentang pendidikan Pancasila, para pengajar seakan kesusahan untuk menarik perhatian para siswa untuk fokus akibat dari konten gawai yang lebih menarik dibandingkan materi yang disampaikan oleh pengajar, membuat mereka lebih berpikir tentang "kapan pembelajaran ini selesai?". Lalu apa solusinya? Pembelajaran dapat diubah dari teacher oriented ke student oriented sehingga siswa lebih aktif dalam kelas. Metode lain yang dapat dilakukan adalah materi tentang pembelajaran Pancasila dikemas semenarik mungkin dalam bentuk narasi singkat dengan gambar menarik atau berupa permainan kecil sehingga siswa dapat lebih fokus. Dapat juga dilakukan dengan membuat film animasi yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila sehingga siswa tidak merasa monoton dan bosan. Untuk tantangan dalam penerapan Pancasila secara umum, tantangan Pancasila sebagai ideologi dalam era ini pun datang dari segi liberalisme, kapitalisme, individualisme, terorisme, dan kebudayaan global. Sebagai bukti, ini adalah pelanggaran yang terjadi pada sila-sila Ketuhanan yang Maha EsaMasih adanya gerakan terorisme yang mengatasnamakan agama tertentu, merusak tempat ibadah dan fanatisme yang sifatnya sangat merugikan. Kasus terorisme yang terjadi baru-baru ini adalah ledakan di Gereja Katedral Kemanusiaan yang adil dan beradabMasih adanya perdagangan manusia, memperkejakan anak di bawah umur, dan keadilan ekonomi dan sosial yang terjadi di masyarakat tidaklah sama rata, masih bergantung kepada status sosial ekonomi Persatuan IndonesiaMasih adanya gerakan yang menganggap sukunya lebih baik dari suku lainnya yang memicu peperangan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilanTerlihat dari demokrasi yang masih tidak dewasa, terutama pada bidang politik. Kritik yang diberikan terkadang dianggap sebagai suatu perlawanan terhadap pemerintah. Padahal kita adalah negara Keadilan sosial bagi seluruh rakyat IndonesiaMasih terlihat adanya perbedaan pendapatan yang diperoleh masyarakat kelas bawah serta pengangguran dan kemiskinan masih banyak ditemukan. Tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi dengan cara Meningkatkan pemahaman tentang pentingnya Pancasila untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam menghadapi revolusi industri mengurangi kesenjangan sosial, meningkatkan rasa toleransi, dan bersikap terbuka terhadap suatu sumber daya manusia yang unggul dengan nilai-nilai Pancasila sehingga tidak melupakan jati diri bangsa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IPTEK sebagai media dalam penanaman dan penguatan Pancasila di era yang serba digital Pancasila sebagai Ideologi Negara 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pancasila diambil dari bahasa sansekerta dan terdiri dari dua kata yaitu Panca yang memiliki arti lima dan Sila yang memiliki arti dasar. Pancasila mampu menjadi dasar dan tolak ukur norma serta perbuatan dan juga tingkah laku bangsa Indonesia. Pancasila merupakan lima dasar yang menopang kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila adalah jiwa dari bangsa Indonesia. Untuk menjaga keutuhan Pancasila, dibutuhkan peranan para pemuda bangsa. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang nilai-nilai pancasila. Tetapi kenyataannya nilai-nilai Pancasila kini mulai terkikis oleh globalisasi yang membawa karakter individualis. Pancasila tidak lagi bisa dimanfaatkan sebagai sebuah sarana yang menahan dampak globalisasi. Para pemuda banyak yang tidak lagi peduli dan tidak mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam merupakan sebuah tantangan besar pada setiap negara di abad ke-20 ini. Basis globalisasi dan modernisasi terbesar berada pada aspek IPTEK atau teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi informasi serta komunikasi yang sudah canggih mampu memutus jarak antar belahan bumi satu dan lainnya. Hal ini tentunya dapat menyebarluaskan berbagai macam informasi dari seluruh bagian dunia. Informasi tentang budaya, bahasa dan tren yang sedang hits pun bisa diperoleh dengan mudah melalui situs dan aplikasi yang tersedia di internet ataupun melalui media komunikasi lain. Arus informasi yang sangat cepat mempermudah akses masyarakat terhadap nilai dan norma-norma asing yang negatif serta bertentangan dengan Pancasila. Adanya globalisasi secara otomatis memiliki dampak pada pola kehidupan masyarakat yang tidak lepas dari generasi muda/ remaja, tidak hanya itu, globalisasi dapat mempengaruhi karakter, moral, etika hubungan antar milenial memiliki hubungan yang dekat dengan teknologi. Generasi ini merupakan generasi yang lahir antara tahun 1980 sampai tahun 2000. Mereka tumbuh besar disaat perkembangan IPTEK berkembang dengan pesat, oleh karena itu generasi milenial merupakan generasi yang tingkat penggunaan internetnya sangat tinggi. Ketergantungan terhadap internet tersebut membuat generasi ini lebih memilih menggunakan internet sebagai sumber informasi dan komunikasi karena internet sangat mudah untuk digunakan dan juga memberikan kecepatan dalam mengakses informasi. Jika penggunaan internet dilakukan secara benar dan semestinya tentu saja kita akan mendapat banyak sekali manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Saat ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan teknologi internet untuk hal yang tidak seharusnya. Generasi muda bangsa Indonesia perlahan mulai meninggalkan karakter bangsanya. Generasi milenial saat ini sangat bergantung pada trend yang tersebar luas secara digital terutama di media sosial. Banyak sekali terjadi kasus kekerasan, pornografi, kemiskinan, minimnya ketahanan keluarga, korupsi dan bahkan narkoba. Ancaman ini sama berbahayanya seperti penggunaan narkoba itu sendiri. Tanpa kita sadari, gadget dan media sosial membuat banyak penggunanya menjadi manusia yang manipulatif, yang hidup tidak sesuai dengan kenyataannya. Hal ini tampak pada keseharian masyarakat bangsa Indonesia sekarang, dimana membully, menghina di media sosial, perilaku kekerasan, tindakan menyimpang lainnya tidak lagi menjadi hal yang memalukan untuk diperlihatkan ke khalayak ramai. Selain itu, internet juga seringkali dijadikan ajang pemecah bangsa dengan menyebarkan berita yang tidak benar seperti hoaks atau menyebarkan ajaran radikal yang berpotensi untuk menghancurkan kesatuan Bangsa serta generasi milenial adalah dua hal yang harus mendapat perhatian lebih untuk saat ini. Ketimpangan sosial ini dikarenakan kurangnya perhatian masyarakat terutama generasi milenial terhadap nilai-nilai Pancasila. Internalisasi dan masuknya nilai liberal yang tidak sesuai dengan kepribadian serta budaya bangsa membuat masyarakat Indonesia bertindak seperti orang buta yang kehilangan tongkatnya. Persoalan yang dihadapi bangsa dan negara hingga sekarang adalah pembudayaan serta aktualisasi nilai-nilai Pancasila yang tidak berjalan secara efektif dan mendasar. 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Tantangan penerapan Pancasila pada masa reformasiPancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup pada masa reformasi tentunya banyak hambatan dan tantangan banyak terjadi pemberontakan yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi lain. Berikut tantangan penerapan Pancasila pada masa reformasi1. Pengaruh globalisasi yang mempengaruhi dan mengancam nilai-nilai Pancasila globalisasi mengakibatkan kebebasan tanpa batas di mana munculnya paham-paham baru meniru kebudayaan luar yang bertolak belakang dengan nilai Munculnya ideologi baru seperti ideologi liberalis, kapitalis, dan hedonisme yang dibawa oleh pengaruh luar yang sangat bertolak belakang dengan ideologi kita Korupsi merupakan tantangan penerapan Pancasila pada masa orde lama sampai pada masa reformasi ini belum juga menemui titik terang untuk Selanjutnya adalah menurunnya rasa persatuan dan kesatuan5. Kondisi masyarakat yang diwarnai oleh kehidupan yang serba bebas kebebasan berbicara, berorganisasi, berekspresi, berkomuniaksi, dan lain sebagainya.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Lahirnya Pancasila sebagai dasar negara tentu telah melewati perjalanan yang sangat panjang dan penuh perjuangan. Pancasila merupakan ideologi Bangsa Indonesia yang memiliki latar belakang tidak hanya berasal dari golongan tertentu, atau dari salah satu tokoh, namun hadirnya dilatarbelakangi oleh pemikiran-pemikiran banyak tokoh terdahulu yang tentunya dilakukan untuk kemerdekaan Bangsa Indonesia tercinta. Isi dari Piagam Jakarta yang telah mengalami perubahan tujuh kata, proses diskusi, serta bentuk perjuangan lainnya pada akhirnya telah menciptakan sebuah kajian 5 sila yang memenuhi syarat sebagai dasar negara di tengah keberagaman Indonesia. Sila pertama dan ketiga menunjukkan bahwa Pancasila memiliki potensi menampung keberagaman masyarakat Indonesia, sedangkan sila kedua menunjukkan bahwa Pancasila memberikan jaminan terealisasinya kehidupan pluralistik, sesuai dengan nilai kemanusiaan. Sila keempat menunjukkan Pancasila memiliki potensi untuk menjamin keutuhan NKRI dan sila kelima merupakan bentuk jaminan terwujudnya masyarakat yang adil dan awal perjuangan telah sampai pada suatu kebangaan bahwa Indonesia adalah negara yang terus berkembang hingga saat ini. Dimana usaha ini tentu dilakukan untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, baik dalam ranah internal maupun eksternal. Di dalam proses pengembangan ini, tentu banyak sekali hal positif yang telah diraih Indonesia. Namun sayangnya, dinamika perkembangan yang dialami juga menciptakan tantangan baru bagi eksistensi Pancasila sebagai dasar negara. Perkembangan zaman ini telah sampai pada era yang mana pelakunya adalah generasi yang disebut sebagai generasi milenial. Karakteristik generasi milenial sendiri umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital, yang faktanya dapat kita amati sendiri di lingkungan sekitar kita masing-masing. Peningkatan 'keakraban' dengan dunia tersebut menghasilkan banyak hal positif, namun juga banyak hal negatif, yang mana dalam bahasan ini adalah bahwa hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi dari ramainya penggunaan media sosial, yang mungkin sudah dapat dipastikan bahwa hampir semua orang telah menggunakan media sosial. Kalau saya boleh berkata, mungkin media sosial sudah menjadi makanan sehari-hari, yang artinya kalau tidak bermedia sosial, sama saja dengan tidak makan. Analogi ini tidak mengarah pada pernyataan bahwa penggunaan media sosial buruk, justru sebenarnya pengguna media sosial yang ramai juga relevan dengan manfaat yang dihadirkan oleh adanya media sosial itu sendiri, seperti dalam bidang bisnis, pendidikan, dan lain-lain. Pancasila merupakan ideologi bersifat terbuka, juga merupakan ideologi yang mampu mengikuti perkembangan jaman yang dinamis. Namun sayangnya, tak ayal dengan adanya media sosial yang semakin menjamur telah membuat nilai-nilai Pancasila perlahan semakin menipis di kalangan anak muda. Banyak anak muda yang dapat dengan mudah dipengaruhi oleh berbagai informasi yang belum pasti dan belum tentu benar. Ada juga isu intoleransi yang dapat menjadi boomerang bagi ideologi Pancasila. Penyebaran informasi yang belum pasti kebenarannya dapat menimbulkan perpecahan, apalagi berita hoax yang berhubungan dengan SARA, sensitif di kalangan masyarakat. Berita hoax juga dapat menimbulkan keresahan bagi masyarakat, sehingga masyarakat merasa terancam bahkan oleh berita yang belum tentu pasti kebenarannya. Selain tantangan nyata melalui media sosial, ada juga tantangan di era milenial dalam menangkal budaya asing. Beberapa negara telah memberikan pengaruh bagi kehidupan negara Indonesia. Pengaruh globalisasi tersebut memberi dapat berupa hal positif dan juga negatif. Banyak budaya asing yang telah mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, dalam hal norma ataupun kebiasaan-kebiasaan. Tak dapat dipungkiri juga bahwa modernisasi dan globalisasi dalam budaya tersebut menjadikan adanya pergeseran nilai dan sikap masyarakat Indonesia. Sedikit contohnya adalah adanya pola hidup yang komsumtif. Perkembangan industri telah membuat masyarakat menjadi mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan. Ditambah lagi dengan fenomena bahwa barang produk luar seringkali dijumpai lebih menarik daripada barang dalam negeri. Lalu juga munculnya sikap individualistik, dimana masyarakat seakan-akan tidak lagi membutuhkan orang lain karena segalanya sudah dipermudah oleh teknologi yang maju. Gaya hidup kebarat-baratan juga mulai meresapi kebiasaan kehidupan sehari-hari. Dimana banyak anak muda, atau bahkan orang yang sudah tua, sangat mengagumi sosok figur dari luar negeri, atau banyak anak muda yang lebih menyukai kebudayaan luar seperti modern dance daripada kebudayaan asli Indonesia menjadi fenomena yang saat ini nyata untuk dihadapi. Hal ini mungkin terjadi karena dari diri sendiri belum ada rasa bangga yang besar terhadap kepunyaan bangsa sendiri. Contoh-contoh tersebut bila direnungkan tentu tidak sesuai dengan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Dimana dalam Pancasila memberi petunjuk untuk selalu meningkatkan jiwa nasionalisme dan patriotisme, namun melalui hal-hal tersebut justru menyebabkan lunturnya rasa cinta terhadap tanah air. Selain itu, satu sumber menyampaikan bahwa pada era milenial saat ini agama sangat memainkan peranan penting terhadap kehidupan berjuta-juta manusia. Bahkan hal ini didukung oleh penyeledikan-penyelidikan yang menyatakan bahwa lebih dari 70% penduduk dunia menunjukan bahwa mereka menganut salah satu agama, dan saya yakin bahwa agama-agama yang ada selalu mengajarkan hal yang baik, sehingga agama memang sangat penting di dalam kehidupan. Namun, bila keyakinan itu menjadikan seseorang beranggapan bahwa agamanya yang paling benar dan berujung menyalahkan agama lain, di sini lah tantangan nyata pelaksanaan Pancasila yang terjadi di masa kini. Doktrin tersebut mampu menyulutkan banyak perselisihan antar umat beragama, entah karena adanya sikap membanding-bandingkan atau lain sebagainya. Lebih parahnya lagi, masalah ini bahkan bisa menyebabkan adanya terorisme radikalisme yang awalnya bersumber dari ajaran yang salah atau menyimpang. Ya, fenomena inilah yang saat ini banyak terjadi dan menjadi tantangan tersendiri bagi generasi milenial dalam mempertahankan pelaksanaan nilai-nilai dengan media sosial, media sosial seharusnya justru dapat menjadi kekuatan dalam mengintegrasikan masyarakat agar tercipta sikap toleransi yang dapat menjadi alat dalam menyebarkan berita maupun konten yang positif. Sedangkan terkait menangkal budaya asing, banyak upaya dari pemerintah maupun generasi milenial yang sebenarnya sudah sangat baik. Menurut saya hal ini bisa selalu dan terus didukung oleh peranan dan partisipasi dari generasi milenial, entah dari bentuk prestasi, penyampaian kritikan yang membangun, adanya karya-karya anak bangsa dan tantangan dalam menyikapi keberagaman agama bergantung pada setiap individu. Jika setiap orang dapat menghayati makna Pancasila, kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan, maka konflik antar agama dapat diminimalisir sedikit demi sedikit. Tantangan akan terasa berat karena masalah baru kunjung bertamu. Jadi, sebagai generasi penerus tonggak perjuangan, renungkanlah ini, "Pancasila itu jiwa dan raga kita. Ada di aliran darah dan detak jantung kita, perekat keutuhan Bangsa dan negara. Saya Jokowi, Saya Indonesia, Saya Pancasila, Kalau Kamu?" Joko Widodo.ReferensiAulia, R., Asrori, A. and Bakhita, F., Lunturnya Norma Pancasila di Era Milenial 2019/2020. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 42 83-90. Hendri, and Firdaus, 2021. Resiliensi Pancasila di Era Disrupsi Dilematis Media Sosial dalam Menjawab Tantangan Isu Intoleransi. Jurnal Paris Langkis, 12 K., 2020. Tantangan di Era Milenial dalam Menangkal Budaya Asing dengan Mengedepankan Sikap Nasionalisme. Tazkiya, 211.Mubarok, A., Sari, and Ramadania, R., 2021. Tantangan Keberagaman Beragama dalam Ikatan Bhineka Tunggal Ika di Era Milenial. Vidya Samhita Jurnal Penelitian Agama, 61. Lihat Pendidikan Selengkapnya
Malang, Jawa Timur ANTARA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi menyatakan bahwa pada era digital seperti saat ini memiliki banyak tantangan dalam upaya untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Muhadjir mengatakan bahwa telah terjadi revolusi besar-besaran dalam kehidupan sehari-hari masyarakat khususnya dengan masuknya era digital. Dengan banyaknya informasi yang beredar di dunia maya tersebut, menjadi tantangan untuk menyiapkan generasi milenial Pancasilais. "Ini memang tidak mudah untuk menyiapkan generasi milenial Pancasilais. Ini pekerjaan berat kita," kata Muhadjir, dalam Simposium Nasional Penanaman Nilai Pancasila sebagai Wahana Pembangunan Watak Bangsa, di Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu. Baca juga Kemendikbud luncurkan program penanaman nilai Pancasila Muhadjir menjelaskan, dengan semakin terbukanya informasi pada era digital seperti saat ini, para generasi muda akan mudah mengakses berbagai informasi baik yang mendukung implementasi nilai-nilai Pancasila, maupun sebaliknya. Informasi yang beredar di dunia maya tersebut, lanjut Muhadjir, harus disaring terlebih dahulu yang tentunya harus sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Peranan seorang guru menjadi penting dalam upaya untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda Indonesia. Menurutnya, tugas seorang guru, bukan hanya berupaya untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila saja kepada anak muridnya, akan tetapi juga harus bisa memberikan pandangan kepada mereka, informasi mana yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. "Seorang guru harus berperan sebagai penjaga gawang untuk menyaring pada saat anak didiknya mendapatkan informasi. Mana yang harus dipakai, mana yang harus dijauhi," kata Muhadjir. Baca juga BPIP akan kembalikan pendidikan Pancasila ke dalam kurikulum Pada era digital seperti saat ini, lanjut Muhadjir, seorang guru harus terampil dalam menggunakan teknologi informasi sebagai wahana pembelajaran. Namun, hal tersebut harus dibarengi dengan keterampilan untuk memilah konten agar sesuai dengan nilai Pancasila. "Tantangan untuk penanaman nilai-nilai Pancasila ini semakin hari semakin kompleks, semakin pelik, utamanya seiring dengan perkembangan zaman," ujar Muhadjir. Dalam kesempatan itu, para perwakilan pelajar di Kota Malang juga mengucapkan ikrar untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila. Ada tiga poin utama yang terdapat dalam ikrar tersebut. Isi dari ikrar tersebut adalah, siap melaksanakan pembudayaan nilai Pancasila melalui gerakan penanaman nilai Pancasila sebagai wahana pembangunan watak bangsa pada satuan pendidikan. Kemudian, siap mengimplementasikan penanaman nilai Pancasila melalui strategi pembelajaran yang kreatif dan inovatif, serta siap melaksanakan pembelajaran Pancasila yang mendalam dan bermakna sehingga membentuk karakter serta penciptaan suasana lingkungan budaya sekolah dan keteladanan. Baca juga Nilai-nilai Pancasila diyakini mampu tangkal hoaksPewarta Vicki FebriantoEditor Triono Subagyo COPYRIGHT © ANTARA 2019
karakteristik tersebut menunjukkan tantangan penerapan pancasila di era